Selasa, 12 Mei 2020

#arahazimuth [GUNUNG MERAPI] “Tersesat” part 1

Kabut tiba dengan begitu cepatnya, terbawa oleh angin bersama hujan, menghilangkan jarak pandang, memastikan aku menghilang di tengah hutan gunung merapi. Cuaca yang tidak bersahabat datang lebih cepat di bandingkan dengan apa yang ku kira. Langit yang tadinya biru seketika tergantikan dengan badai yang begitu kelabu. Suasana pendakian gunung merapi 2 tahun yang lalu. 

Pendakian ini dimulai 30 januari 2018, saat itu aku dan tim ku berjumlah 11 orang. Perjalanan kami mulai dari semarang menggunakan kuda besi yang kokoh dalam menggerus aspal nan hitam. Selama hampir 4 jam kami tempuh perjalanan untuk menuju magelang. Magelang bukanlah titik pendakian kami, melainkan  rumah salah satu anggota tim. Jarak yang kami tempuh lebih dari 85 km cukup untuk punggung dan bokongku terasa pegal. Jalanan yang terkadang memiliki lubang terasa begitu sakit dibokongku, kala lubang jalan bersentuhan dengan ban yang datang begitu cepat. Perjalanan sudah 4 jam berlalu. Rumah yang kami tuju sudah menanti. Setibanya dirumah temanku itu, yang kucari hanya tempat bersandar untuk merebahkan punggung dan bokongku yang mulai mati rasa.

Urusan tim di magelang bukan hanya sekedar mampir untuk istirahat dan makan siang. Memang tujuan utamanya untuk meminta makan dirumah teman, tapi di magelang juga, kami menyewa beberapa peralatan mendaki. Kami menyewa alat pendakian di magelang tujuannya agar perjalanan dari semarang tidak perlu membawa beban yang banyak. Manajemen packing memang perlu dilakukan agar dalam perjalanan terasa lebih nyaman. Setelah selesai menyewa dan mangatur ulang alat pendakian, kami pun bersiap untuk menuju basecamp pendakian gunung merapi. Sebelum berangkat jelas kami harus mengisi perut terlebih dahulu. Perut telah terisi nasi, kami berangkat menuju arah azimut kali ini yaitu basecamp gunung merapi.

Kuda besi kembali kami pacu. Kali ini melewati jalan yang sudah mulai menanjak. Kecepatannya pun sudah tidak sekencang di kota. Perlahan namun pasti perjalanan kami lanjutkan.

Jalan semakin sulit terkadang menanjak terkadang juga menukik di ujungnya. Jalan yang cukup menguji nyali kami ini memiliki sisi tebing dan jurang. Terkadang terdapat rasa ngeri ketika berada di sisi jalannya. Tetapi dijalan ini kami disajikan dengan landscape hijau yang memiliki terasering yang tersusun dengan rapi. Berisikan dengan sayuran khas pegunungan, yang menambah syahdu perjalanan.

Sampailah kami melalui jalan yang begitu menukik tajam. Karakter jalan yang sangat membahayakan ketika di pegunungan. Rasa - rasanya begitu ngeri melihatnya saja, apalagi kalau sampai terjatuh. Tidak terbayang olehku.

Tak lama setelah kami melewati jalan tersebut. Belum saja lebih dari 10 meter dari jalan yang menukik itu, terdengar suara bagian motor terseret di jalan aspal. Kami seketika berhenti. Dan benar saja salah satu dari anggota tim terpeleset di jalan yang curam dan menukik itu. Syahdan kami segera memberhentikan kuda besi kami dan melihat bagaimana keadaan anggota tim. Satu teman kami terluka, terdapat luka pas di bagian lutut sebelah kirinya. Terlihat sedikit bercak darah di kulitnya dan terdapat lebam di sekitar bercak darah tersebut. Pertolongan pertama pada kecelakaan kami siapkan dan sesegera mungkin melakukan pengobatan. Lukanya tidak terlalu parah dan masih bisa untuk diteruskan ujar temanku yang terluka. Ada salah satu teman bertanya “masih bisa lanjut?” dan dijawab begitu singkatnya“masih, yuk jalan”. setelah mendengar kata tersebut kami pun mengaminkan untuk melanjutkan perjalanan.  Perjalanan kami lanjutkan kali ini dengan kecepatan yang rendah serta kewaspadaan yang lebih tinggi, kami tidak ingin perjalanan ini mengalami kecelakaan yang sama lagi.

Kami tiba di basecamp pendakian gunung merapi setelah menggerus jalan lebih dari 20 menit. Basecamp gunung merapi ini memiliki ketinggian sekitar 1560 mdpl. Hawa dingin khas pegunungan memang terasa menusuk kulit. kami tiba di basecamp pas ketika adzan magrib berkumandang. Kami langsung mendirikan sholat magrib dan di jamak dengan sholat isya.

Setelah selesai sholat, kami sesegera mungkin melakukan persiapan untuk tracking. Pendakian ini harus dimulai lebih cepat supaya tidak terlalu malam di perjalanan. Pada pendakian malam membawa senter atau headlamp merupakan senjata sakti yang perlu kita siapkan. Senter kami siapkan dan berdoa telah kami kerjakan, saatnya untuk meyambangi gunung merapi yang tak pernah ingkar janji.

Pendakian kami mulai diawal malam ini. Ditemani oleh air tuhan yang perlahan membasahi sang bumi. Wangi tanah seakan terangkat ke udara dan bersatu dengan oksigen yang kami hirup. Hujan yang turun perlahan membuat kami memakai jas hujan dari awal pendakian.

Kaki kami terus melangkah dengan pelan namun pasti. Awal pendakian kami melewati track jenis beton. Tak lama kemudian berubah menjadi tanah basah yang terkena air hujan. Becek dan licin telah menghinggapi tanah, membuat langkah kami semakin berat dan semakin pelan pula. Bahkan, tidak sedikit dari anggota tim yang terpeleset, sampai sampai seperti orang yang sedang mengikuti DIKSAR yang harus bertiarap dan membutuhkan tangan untuk melewati track yang menantang.

Hari kian temaram, hanya cahaya yang kecil dari senter yang menerangi malam ini. Hujan semakin gagah saat menghujamkan airnya ke bumi. Kabut pun tiba, jarak pandang semakin sempit, dan napas kami semakin sesak. Dalam keadaan seperti ini ingin rasanya segera masuk tenda dan menyesap kopi panas. Ah, apa yang aku pikirkan ini sedang dalam perjalanan, angan ku harus segera aku lepaskan. Dasar aku.

Setelah satu setengah jam berjalan kami tiba di shalter 1, merupakan tempat istirahat yang berbentuk seperti gubuk yang cukup untuk diisi 15 orang. Kami melepas lelah sejenak, merenggangkan otot kami yang selalu tegang, dan mengendurkan bahu kami yang sedari tadi membawa tas gunung yang cukup berat. Ada dua hal yang kami cari ketika beristirahat. Yang pertama makanan dan yang kedua minuman, seolah menjadi harta karun kala pendakian, menjadi tujuan utama untuk mengisi tenaga dan menghilangkan dahaga. Istirahat terasa begitu nikmat, merasakan badan yang tidak membawa beban lagi membuat kami lupa perjalanan belum selesai. 30 menit berlalu kala kami tiba di shalter satu. Tiba-tiba salah satu anggota tim berkata “mari kita lanjutkan, mengingat hujan yang tak kunjung reda dan dingin yang semakin menyiksa”. Seperti anak buah yang diperintah oleh komandannya kami terkesiap dan langsung melanjutkan perjalanan di tengah hujan yang semakin kejam.

Aku berfikir setelah istirahat perjalanan kami akan memiliki ritme baru, ritme perjalanan yang tidak cepat tapi konsisten. Tak dinanya, perjalanan kami semakin pelan oleh keadaan yang semakin temaram ini. Langit yang hitam, angin yang datang, kabut yang tebal, serta hujan yang tak kunjung menghilang, menambah lengkap suasana malam. Dan benar saja, tenaga kami terasa terkuras dengan cepat, baru beberapa langkah saja rasanya ingin segera beristirahat, melangkah lagi dan sesegera mungkin ingin beristirahat lagi. Semakin lama kondisi fisik kami mulai melemah dan mungkin mental kami mulai menurun oleh kondisi cuaca yang tidak begitu bersahabat.

Tak lama hanya 40 menit dari shalter 1 kami berjalan, kami memutuskan untuk mendirikan tenda. Mengingat kondisi tim yang sudah tidak baik baik saja. Kami mencari tempat yang lapang dan cukup untuk mendirikan tenda. Alhamdulillah nya kami menemukan lokasi tersebut. Sebuah terasering kecil yang cukup untuk dua tenda yang telah kami bawa. Tenda langsung kami dirikan dan kami berhamburan menuju tenda. Tak ingin berlama lama dengan pakaian basah yang kami kenakan, sesegera mungkin kami berganti pakain.

Kali ini aku tidak menunggu untuk mengganti pakaian basah yang menempel di tubuhku. Kuambil kaos kering dan jaket tebal yang aku bawa, segera ku pakai untuk membungkus tubuhku. Tubuh ku masih terasa begitu dingin oleh baju basah tadi. Biasanya untuk menghilangkan rasa dingin aku menyiapkan minuman kesukaanku, yang sering aku sebut dengan kopi sobek. Beda dengan kopi yang tersedia di tempat kopi ternama. Kopi ini tidak membutuhkan barista, dan alat yang begitu lengkapnya. Cukup dengan gelas dan bungkus kopi sebagai alat pengaduknya, kopi ini memiliki rasa yang tidak kalah saing dengan kopi yang disana. Kopi sobek memang yang terbaik aku rasa, apalagi dinikmati sama kamu iyaa kamu.

Seberes menikmati kopi, ku akhiri malam ini lebih cepat dibandingkan pendakian lainnya. Mungkin faktor cuaca yang tidak bersahabat menjadi penyebabnya. Ku ambil sleeping bag, segera aku masuk di dalam nya bak ulat yang menjadi kepompong. Tanpa menunggu lama kantuk menyerangku dengan kuatnya. Menarik kuat-kuat kedua kelopak mata ku. Dan secepatnya untuk menutup malam ini.

Pagi pun datang dengan indahnya membawa pesona kuning nan indah di ufuk timur. Pemandangan indah ini adalah awal dari petualangan ku yang menegangkan yaitu tersesat di gunung merapi. 

Lanjut part 2

~agengamri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#arahazimuth [GUNUNG MERAPI] “Tersesat” Part II

Benar saja mitos yang sering terdengar di gunung merapi. Terbukti dengan sangat jelas. Mitos yang konon katanya di gunung merapi matahari ak...