Sabtu, 11 April 2020

#arahazimuth [GUNUNG UNGARAN] part 1

Arah azimuth ini aku awali pada pertengahan tahun 2017. Tepatnya setelah aku menyelasaikan semester pertamaku. Awalnya hanya kata canda yang terlontar dari kawan, yang terselip kala kami sedang berbincang di awal malam. Banyaknya kata yang merayu untuk melihat indahnya gunung, membuatku mengiyakan untuk merasakan alam gunung ungaran untuk pertama kali. Yang awalnya hanya beberapa orang yang akan melakukan pendakian, tak dinyana kabar ini ibarat pengumuman. banyaknya teman yang ingin pergi membuat pendakian ini di isi dangan 18 orang. Pasti sobat akan bertanya apahkah open trip atau ada acara dari angkatan. Jelas sobat, ini hanya kenginan yang tersalurkan lewat angin dan jejaring sosial.

Hari yang penuh dengan kemuning senja, mengantarkan kami menuju basecamp gunung ungaran. Perjalanan ini kami tempuh dengan doa dan usaha, beriring dengan hujan yang menghatam bumi  dengan kerasnya. Empat puluh menit pun berlalu, kami tiba di basecamp gunung ungaran.  Yang benama basecamp mawar. Kedatangan kami disambut dengan indahnya suara adzan magrib kala itu. Tidak menunggu lama, kami bergegas menunaikan kewajiban kami untuk menghadap ilahi. Setelah beres melakukan ibadah sholat magrib, kamipun melakukan pemanansan dan melakukan pendakian kami lanjutkan.

Langit yang awalnya kuning perlahan di telan oleh sang hitam, pemandangan khas hutan tropis berubah menjadi hitam temaram, hanya headlamp dan flashlight yang menemani kami dalam perjalan ini. Gelap memang menakutkan, tetapi jika dirimu mau untuk bersabar sejenak, maka kamu akan melihat banyaknya bintang yang menemanimu dikala gelap.

Waktu berlalu, perjalanan tetap dilanjutkan, setelah 45 menit kami berjalan sampailah di pos 1. Perjalanan berhenti untuk kaki yang mulai merasa pegal, memang kondisi track dari basecamp ke pos 1 tidak terlalu terjal tapi tetap saja yang namanya kaki ini merasakan yang namanya nyeri. Setelah 10 menit istirahat dan minum, perjalanan dilanjutkan. Suara hutan malam sesekali akan membuat mu merasa alam akan terasa lebih menenangkan, jika dibandingkan dengan gemerlapnya kota.

Perjalanan kami teruskan menuju pos 2, hanya bertemankan sedikit cahaya kami melewati jantung sang rimba. Penuh dengan rerumputan dan juga pohon kekar di setiap sudut nya. Langkah kami terhenti disebuah persimpangan dan sekaligus pos dua. Memang pada pos 2 ini terdapat dua jalur, jalur yang sebenernya adalah jalur yang langsung melewati hutan. Sedangkan jalur yang kedua melewati kebun teh yang konon katanya sering disebut peromasan. Kami pun sepakat untuk memilih jalur yang tercepat untuk menuju tempat untuk mendirikan tenda. Syahdan, kami pun melewati jalur yang menuju hutan.

Jalur menuju pos 3 ini memang meliki vegetasi yang cukup lebat, terasa berat sekali perjalanan malam itu. Dimana kami juga dituntut untul berebut oksigen dengan pohon besar dimana  mana. Cuaca yang lembab serta hujan membasahi tubuh kami, serasa melengkapi beratnya perjalanan malam ini. Bukan kata "jera" yang terlintas dalam benakku, melainkan kata "lagi" yang selalu aku pikirkan. Bagaimana caraku melakukan perjalanan, cukup nikmati dan syukuri pasti semuanya memiliki arti disuatu hari.

Pasti sobat akan bertanya kenapa si capek capek muncak? atau ngapain si kepuncak?. Kalo  dibolehkan meminjam kata-kata inpirator saya juang astrajingga, puncak gunung itu ibarat cita cita, saat kita memulai perjalanan, kita harus berdoa sebelum melangkah. Di perjalanan, kita jatuh dan bangkit berulang kali. Kita menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya dalam perjalanan menuju puncak. Semisal kita gagal, kalo semisal memang kita gagal sampai puncak, bukan berarti perjalanan ini sia sia. Kita akan belajar menjadi manusia yang  lebih baik.

Lanjut di part 2
Salam lestari
Salam literasi
Agengamri

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

#arahazimuth [GUNUNG MERAPI] “Tersesat” Part II

Benar saja mitos yang sering terdengar di gunung merapi. Terbukti dengan sangat jelas. Mitos yang konon katanya di gunung merapi matahari ak...