Rabu, 22 April 2020

#arahazimuth [GUNUNG UNGARAN] part 2

Lambat laun tibalah kami di pos tiga. Di pos tiga ini kami istirahat sejenak, sembari bercanda ria. Tidak begitu lama setelah istirahat perjalanan kami lanjutkan. Yang konon katanya jalur dari pos tiga menuju tempat camp memiliki kontur yang cukup terjal. Jalur yang berbatu menambah lengkap sulitnya perjalanan malam itu. Beruntungnya kami dijalur ini, karena langit tak lagi membasahi bumi,dan angin seakan berkompromi untuk berhenti. Malam itu hanya kami dan gelap malam berbalut bintang.

Jalur yang semulanya hutan perlahan menemui batasnya dan berganti perdu. Gagah nya hutan perlahan terganti dengan pemandangan lampu kota nan jauh disana. Lelah  memang tidak hilang semuanya, tapi ketika pemandangan itu tersajikan didepan mata, terasa ada api semangat dalam jiwa. Tak lama setelah hutan berganti vegetasi, kami pun tiba di tempat yang kami rencanakan untuk mendirikan tenda. Tenda kami keluarkan dan kompor kami nyalakan. Karena rasa dingin dan lapar menyerang, tim kami bagi menjadi dua bagian. Tim memasak dan tim memasang tenda. Tujuannya agar ketika tenda sudah beres didirikan, perut kami bisa langsung diberi makanan.

Seberes makan dan ganti pakaian. Sejenak aku mengamati pemandangan sekitar. Ditempat kami mendirikan tenda terdapat berapa batu besar yang langsung mengahap tepi punggungan yang cukup terjal. Hitam langit dengan setitik bintang disana seakan menemani malam ini. Baru saja aku menatapi langit itu angin datang membawa dinginnya. Tubuh  yang terbelai dengan dingin angin, membuatku segera masuk tenda dan mengakhiri malam ini. Bersama temanku yang sering kusebut sleeping bag. Dekapan sleeping bag ini cukup cepat membuat ku terlelap.

Pagi pun tiba, bersama sang fajar yang perlahan membakar langit malam. Kemuning indah mewarnai landscape menambah indah pagi ini. Aku terpesona oleh lukisan alam yang susah untuk di ungkapkan. Seperti cinta ku padamu, dasar bucin. Waktu pagi ini terasa begitu cepat sang fajar perlahan menaiki tahtanya, sinarnya kuat menusuk langsung ke bumi. Kulitku pun tak dapat terhindar dari tusukan sinar sang mentari. Setelah selesai dengan berbagai kegiatan kami lanjutkan perjalanan pulang. Perjalanan pulang kami tempuh dengan cepat dan aman sampai tujuan.

the end

lanjut di arahazimuth selanjutnya yak

salam semesta
untuk kita
kita semua

agengamri

Sabtu, 11 April 2020

#arahazimuth [GUNUNG UNGARAN] part 1

Arah azimuth ini aku awali pada pertengahan tahun 2017. Tepatnya setelah aku menyelasaikan semester pertamaku. Awalnya hanya kata canda yang terlontar dari kawan, yang terselip kala kami sedang berbincang di awal malam. Banyaknya kata yang merayu untuk melihat indahnya gunung, membuatku mengiyakan untuk merasakan alam gunung ungaran untuk pertama kali. Yang awalnya hanya beberapa orang yang akan melakukan pendakian, tak dinyana kabar ini ibarat pengumuman. banyaknya teman yang ingin pergi membuat pendakian ini di isi dangan 18 orang. Pasti sobat akan bertanya apahkah open trip atau ada acara dari angkatan. Jelas sobat, ini hanya kenginan yang tersalurkan lewat angin dan jejaring sosial.

Hari yang penuh dengan kemuning senja, mengantarkan kami menuju basecamp gunung ungaran. Perjalanan ini kami tempuh dengan doa dan usaha, beriring dengan hujan yang menghatam bumi  dengan kerasnya. Empat puluh menit pun berlalu, kami tiba di basecamp gunung ungaran.  Yang benama basecamp mawar. Kedatangan kami disambut dengan indahnya suara adzan magrib kala itu. Tidak menunggu lama, kami bergegas menunaikan kewajiban kami untuk menghadap ilahi. Setelah beres melakukan ibadah sholat magrib, kamipun melakukan pemanansan dan melakukan pendakian kami lanjutkan.

Langit yang awalnya kuning perlahan di telan oleh sang hitam, pemandangan khas hutan tropis berubah menjadi hitam temaram, hanya headlamp dan flashlight yang menemani kami dalam perjalan ini. Gelap memang menakutkan, tetapi jika dirimu mau untuk bersabar sejenak, maka kamu akan melihat banyaknya bintang yang menemanimu dikala gelap.

Waktu berlalu, perjalanan tetap dilanjutkan, setelah 45 menit kami berjalan sampailah di pos 1. Perjalanan berhenti untuk kaki yang mulai merasa pegal, memang kondisi track dari basecamp ke pos 1 tidak terlalu terjal tapi tetap saja yang namanya kaki ini merasakan yang namanya nyeri. Setelah 10 menit istirahat dan minum, perjalanan dilanjutkan. Suara hutan malam sesekali akan membuat mu merasa alam akan terasa lebih menenangkan, jika dibandingkan dengan gemerlapnya kota.

Perjalanan kami teruskan menuju pos 2, hanya bertemankan sedikit cahaya kami melewati jantung sang rimba. Penuh dengan rerumputan dan juga pohon kekar di setiap sudut nya. Langkah kami terhenti disebuah persimpangan dan sekaligus pos dua. Memang pada pos 2 ini terdapat dua jalur, jalur yang sebenernya adalah jalur yang langsung melewati hutan. Sedangkan jalur yang kedua melewati kebun teh yang konon katanya sering disebut peromasan. Kami pun sepakat untuk memilih jalur yang tercepat untuk menuju tempat untuk mendirikan tenda. Syahdan, kami pun melewati jalur yang menuju hutan.

Jalur menuju pos 3 ini memang meliki vegetasi yang cukup lebat, terasa berat sekali perjalanan malam itu. Dimana kami juga dituntut untul berebut oksigen dengan pohon besar dimana  mana. Cuaca yang lembab serta hujan membasahi tubuh kami, serasa melengkapi beratnya perjalanan malam ini. Bukan kata "jera" yang terlintas dalam benakku, melainkan kata "lagi" yang selalu aku pikirkan. Bagaimana caraku melakukan perjalanan, cukup nikmati dan syukuri pasti semuanya memiliki arti disuatu hari.

Pasti sobat akan bertanya kenapa si capek capek muncak? atau ngapain si kepuncak?. Kalo  dibolehkan meminjam kata-kata inpirator saya juang astrajingga, puncak gunung itu ibarat cita cita, saat kita memulai perjalanan, kita harus berdoa sebelum melangkah. Di perjalanan, kita jatuh dan bangkit berulang kali. Kita menemukan siapa diri kita yang sesungguhnya dalam perjalanan menuju puncak. Semisal kita gagal, kalo semisal memang kita gagal sampai puncak, bukan berarti perjalanan ini sia sia. Kita akan belajar menjadi manusia yang  lebih baik.

Lanjut di part 2
Salam lestari
Salam literasi
Agengamri

Selasa, 07 April 2020

#arahazimuth

Arah azimuth merupakan pilihan kata yang mewakili perjalanan yang telah aku lakukan. Melewati batas untuk menuju tak terbatas. Melepas belenggu menuju hari untuk melepas rindu. Perjalan ini membuka jiwa yang merasa lelah dengan banyaknya masalah yang ada. Perjalanan yang memberi waktu untuk melihat, mendengar, dan merasakan apa saja yang sudah diberikan oleh semesta untuk kita.

Arah azimuth hanyalah kiasan yang aku berikan untuk perjalanan yang telah aku lukakan. azimuth akan menjadi tujuan yang digapai bersama usaha dan doa. berkelana bersama teman untuk berbagi kisah dan cerita dihari tua. Banyak hal yang sangat menarik yang dapat merubah hidupku. bukan hanya sekedar untuk berlibur lebih dari itu, yaitu mencari sesungguhnya sapa diri ini.


Menyenangkan, menegangkan, dan mendebarkan hanya bagian kecil dari perjalanan yang akan aku tuangkan dalam secercik tulisan. semoga menjadi literasi yang mengispirasi, untuk mu semua dan negeri ini. Ayo sobat tunggu apa lagi kita sudah dinanti negeri ini. jangan pernah ragu untuk melangkah jangan pernah takut untuk berubah. tunggu apa lagi semesta kita telah menanti.


salam literasi

salam lestari
semesta menanti
ageng amri

#arahazimuth [GUNUNG MERAPI] “Tersesat” Part II

Benar saja mitos yang sering terdengar di gunung merapi. Terbukti dengan sangat jelas. Mitos yang konon katanya di gunung merapi matahari ak...